Hari ini cuaca terlihat cerah tapi tak berlaku bagi kondisi hati, pikiran dan perasaanku tak secerah hari ini. Aku kesal, jengkel, marah dan campur aduk perasaanku pada orang-orang sekitarku. Mereka terasa sangat menyebalkan bagiku dan aku membenci mereka. Aku ingin mereka lenyap dari hadapanku atau aku yang menghilang.
Aku ingin pergi dari komunitas yang membuatku benci berada di dalamnya. Sayang sekali saat aku menyadari kalau aku telah mencintai lembaga ini, padahal aku ingin menghancurkan mereka yang ada di dalamnya. Emosi benar-benar melingkupi dan menguasaiku sekarang. Aku ingin enyah dari hadapan mereka maupun mereka yang enyah dari hadapanku.
Selalu mencoba terlihat kuat dan professional tapi di dalam aku rontok, rusak, hancur tak berbentuk. Tidak ada tempat untuk meluapkan, benar-benar feel alone dan ingin berontak rasanya.
Tidak ada tempat meluapkan atau aku tak mau meluapkan? Apa aku terlalu pengecut karena lebih memilih untuk menghindar karena aku juga terlalu takut apabila sikap frontalku keluar begitu saja memukul rata orang-orang yang di depanku. Aku orang yang frontal? Ya… itu jawabnya. Aku ingin mencaci, memaki, membentak dan mempressure serta menghajar orang yang aku benci itu. Ya, aku berdoa untuk dia, namun berdoa supaya dia cepat menghilang walau ku tahu itu tak mungkin dikabulkan. Tapi aku benar-benar benci dia dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku benci dan benar-benar benci. Kebencian meliputiku.
Mempertimbangkan, ya sekarang aku sedang mempertimbangkan untuk keluar dari zona mereka. Membuat zonaku sendiri. Aku lebih suka bertindak dan berjalan sesuai aturan yang kubuat untuk diriku sendiri. Memang seakan angkuh, namun aku punya standar sendiri untuk diriku. Sehingga terlihat munafik kalau aku tak dapat menerima mereka dalam standar yang kubuat. Sampai-sampai kata Mother Teresa menjadi bahan perenunganku, “Jangan marah, karena marah itu akan melukaimu lebih daripada orang yang kau marahi”. Ya benar, kebencian ini seperti menyiksa, tapi aku benar-benar menikmati siksaan itu. Aku menikmati membenci orang, menikmati tidak ingin memaafkan kesalahan orang dan menikmati melihat orang yang kubenci sakit. Psikopat??? Ya… mungkin aku psikopat, tapi psikopat menurut standar yang juga kubuat sendiri.

Apakah ini kejadian sungguhan atau fiksi? Kalau kenyataan, kok masih amat kabur ceritanya? Apa sengaja disamarkan ya?
BalasHapus