Kamis, 01 September 2011

Bapak Penjual Susu Keliling dan Sosok Papa


Sore hari itu, aku lupa tanggal berapa… Seingatku aku baru pulang dari suatu pusat studi di kampus dengan barang bawaan yang banyak dan berat. Baju kotor (karena malam sebelumnya aku menginap di luar kost), laptop, buku-buku milik dosenku serta dokumen-dokumen pembinaan, sangat berat rasanya saat itu, membawa barang sebanyak itu setelah seharian bekerja. Dengan langkah gontai aku berjalan dengan barang-barang bawaan itu menuju kost.
Sampai di depan kampus, hendak menyeberang, namun mata ini terpaku pada seorang bapak yang lewat persis di depanku, niat menyeberang pun aku urungkan. Aku kembali berjalan gontai di belakang bapak tadi yang berjalan pelan karena langkahnya memang tertatih. Ya, aku ingin menyapa namun masih mengumpulkan keberanian, aku rasanya pernah menjumpai bapak ini tapi aku benar-benar lupa namanya dan seingatku dulu dia membawa gerobak namun sekarang dia tidak membawa gerobak tersebut, hanya menggendong sebuah tas karung plastik berwarna putih.
Aku berjalan di belakangnya sambil mengumpulkan keberanian, hingga tiba pada perempatan jalan, bapak itu menyeberang dan berjalan lurus, aku masih tetap berdiri di penghujung bangjo, ragu apakah aku harus menyeberang dan berjalan lurus atau aku belok untuk pulang ke kost dan badanku sudah sangat lelah saat itu. Aku terdiam lama di penghujung jalan itu, mengamati bapak tersebut berjalan perlahan di seberang jalan sana, orang-orang mulai menatapku heran, aku membalikkan badan dan mulai melangkahkan kaki berbelok menuju kost, namun sebentar aku berhenti lagi, memutar kembali tubuhku dan mulai menyeberang jalan mengikuti bapak itu. Tak dinyana bapak tersebut berhenti memperhatikan sebuah pagar yang sedang di bangun, lama dia berdiri di depan pagar itu, takut ketahuan aku mengikutinya, akhirnya aku berjalan pelan melewatinya. Aku berjalan sangat pelan sambil sesekali menoleh ke belakang. Tak lama bapak tersebut mulai berjalan perlahan, aku berhenti dan pura-pura menelpon. Bapak tersebut lewat di depanku perlahan, sedangkan aku masih pura-pura menelpon seseorang.
Keberanian itu akhirnya terkumpul jua, dengan segera aku menyimpan Hpku dalam saku kemudian tepat di depan suatu markas tentara aku langsung menjajari langkah dan menyapanya. “Hi pak, tadi saya mengikuti bapak dari depan kampus, namun ragu takut saya salah, bapak jual susu? Kok tidak pakai gerobak lagi??”. “Hai non”, jawabnya, “gerobak saya sedang rusak karena beberapa hari yang lalu ditabrak motor, mau beli susu? Ini masih ada”. Jawabku “Oh ya pak saya mau beli 1 liter (padahal saat itu aku bingung, mau diapakan susu 1 liter??), ada no kontak pak?”. Lalu jawabnya, “oh ya, ada… bila ingin pesan antar dapat menguhubungi saya, nama saya Frans Brotoseno, non kuliah jurusan apa? Adik saya juga mengajar di Satya Wacana”. Aku menjawab, “Oya pak, saya akan menghubungi bila saya perlu, saya jurusan Biologi pak. Oh ya? Dosen fakultas apa pak?”…….. obrolan kami cukup panjang sore itu, bapak tentara yang berjaga di pos, mulai memperhatikan kami, aku menyadari dari tatapan matanya yang sedari tadi menyertai. Kemudian aku menyudahi pembicaraan kami, kami berpisah, si bapak terus berjalan lurus sedang aku harus berbelok dan memutar cukup jauh untuk menuju kost.
Sambil berjalan pulang aku merenung sampai aku tidak melihat benang layangan melintang di depanku hingga tersangkut di leherku, anak – anak kecil yang bermain layangan tersebut mengejekku sambil tertawa dengan ungkapan-ungkapan berbahasa Jawa yang sama sekali aku tak mengerti. Kulepaskan benang itu dan kuserahkan kembali pada anak-anak itu sembari tersenyum, anak – anak itu langsung berhenti tertawa dan mengucapkan terima kasih, hatiku langsung sejuk J. Aku kembali melanjutkan perenunganku, mencoba flash back pada percakapanku tadi dengan bapak penjual susu sambil memandangi bungkusan berisi 1 liter susu yang baru kubeli. Wajah khas bapak tersebut jelas menunjukkan bahwa beliau merupakan warga keturunan tionghoa, potongan rambutnya mengingatkanku pada papa. Sapaan ramahnya tadi juga mengingatkanku pada papa. Hatiku terasa hangat sekali sore itu. Prinsip hidup bapak penjual susu tersebut “pokoknya kerja, jangan sampai minta pada orang lain”, mirip dengan prinsip hidup papa, papa selalu bilang, “Lia, jangan pernah bergantung pada orang lain, jadilah diri sendiri, Lia harus mandiri”.
Sampai di kost, aku langsung melepaskan barang-barang yang tergantung di tubuhku dan merebahkan diri di kasur, aku letih sekali, aku mulai memejamkan mata karena hatiku terasa hangat dan mulai dilingkupi kerinduan ingin pulang dan bertemu papa. Aku mulai menerawang masa lalu, dulu papa selalu pulang makan siang, setelah makan kemudian kadang mengantarku pergi ke sekolah untuk mengikuti ekskul. Ya, papa selalu mendukung kegiatanku di sekolah. Pulang dari kantor jam 4 sore, kemudian menjemputku kembali untuk sama-sama pulang. Dalam perjalanan pulang kadang papa mengajakku untuk membeli makanan ringan. Dulu setiap malam minggu papa selalu mengajakku dan mom nonton bareng midnight film, setelah nonton sambil  bergantian menyetir mobil dengan papa, kami menuju luar kota, mencari tempat makan di pinggir jalan saat tengah malam, berhenti di taman kota saat tengah malam sambil makan jagung atau roti bakar sembari masing-masing curhat hahahaha…...

Tiap hari minggu atau hari-hari libur lainnya, kami selalu pergi memancing, mencari spot memancing yang nyaman, meski harus berjalan berkilo-kilometer ke dalam hutan. Ya, hobiku dan hobi papa sama persis, memancing haha.. Kadang mom juga ikut memancing bersama kami, membawa bekal makanan dari rumah, sambil menikmatinya di tengah hutan, hahhh aku kangen suasana itu.
Hmmmm… sudah hampir 3 tahun aku tidak melakukan hal itu lagi, selain aku berada jauh dari rumah untuk menuntut ilmu, kondisi kesehatan papa sedang menurun. Ya, papa baru saja selesai operasi untuk pemasangan suatu ring di jantungnya, papa tidak boleh terlalu lelah, kebanyakan pikiran dan harus banyak istirahat, huffttt aku kangen pulang. Dulu papa sering bolak balik Jakarta – Banjarmasin untuk masalah bisnisnya, namun sekarang berbeda, papa sering bolak balik Jakarta – Banjarmasin bahkan Singapore hanya untuk berobat.
Kubuka kembali mata dan tanganku mulai bergerak meraba-raba saku untuk meraih Handphone dan mulai menekan kontak papa, nada dering mulai tersambung, aku menunggu telpon di seberang sana di angkat, yap papa mengangkatnya, langsung meluncur kalimat-kalimat curhat dari bibirku, papa mendengarku dengan sabar, hmmmm… papa selalu begitu, selalu sabar, tidak pernah memukulku, serta selalu bilang, “Lia, yang penting belajar ya”.

Panjang lebar obrolan kami sore itu sampai malam, sungguh tidak terasa pembicaraan kami lewat telepon selama hampir 2 jam lebih sampai-sampai kuping terasa panas. Ku tutup telponku setelah puas bercerita, aku langsung bangkit dari tempat tidurku, bersiap mandi dan bergegas untuk kembali bekerja, teman-teman telah menungguku :)

3 komentar: