Kehidupan
bermahasiswa saya benar-benar penuh warna. 3 tahun 9 bulan menyelesaikan strata
1 di Fakultas Biologi UKSW dengan susah payah dan berkesempatan berkecimpung
dalam Lembaga Kemahasiswaan aras Fakultas dan Universitas. Saya bukan mahasiswa
yang berprestasi “wow” dalam kegiatan akademik, lulus dengan IPK hanya 3,20 dan
4 mata kuliah yang mengulang dari total 40 mata kuliah yang diambil, terlibat
dua kali dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang didanai oleh DIKTI
dan dua kali diutus untuk ikut penelitian multidisiplin ke Universitas serta
beruntung diberi kepercayaan jadi asisten dosen di Fakultas saya dan Fakultas
tetangga (Fakultas Ilmu Kesehatan).
Setelah merenung dan
refleksi, ya wajar kalau saya jadi mahasiswa yang biasa-biasa aja dalam
akademik, lha wong kalo kuliah pagi
aja, saya datang dalam keadaan ngantuk dan lupa nyisir rambut karena buru-buru
pergi ke kampus (maklum bangun kesiangan). Saya masih ingat dalam suatu kuliah
pagi jam 7 dengan dosen Prof. Haryono Semangun, ketika saya tiba dalam ruang
kuliah, beliau pasti berkata “Mbak Fitri setiap masuk kuliah saya pasti sambil
terengah-engah haha....”. ya iyalah, secara saya pergi ke ruang kuliah dalam
keadaan setengah berlari karena hampir terlambat, dan beruntung beliau selalu
menunggu saya tiba (saya termasuk mahasiswa rajin kuliah (ngisi absen doank)
lho) baru kuliah dimulai. Mengerjakan tugas kuliah pun cenderung apa adanya
karena baru dikerjakan tengah malamnya sebelum besok paginya dikumpulkan. Dalam
kuliah pun, saya juga termasuk mahasiswa yang kalem alias diem aja lantaran di
kepala saya terlalu banyak hal di luar kuliah yang dipikirkan. Apalagi kalau
mata kuliah yang tidak disenangi seperti Struktur dan Perkembangan Tumbuhan,
Taksonomi Tumbuhan, Fisiologi Tumbuhan, dijamin saya cuma jadi pendengar setia
(masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa satu pun yang nyangkut di otak). Kalau mata kuliah
yang berkaitan dengan mikrobiologi dan Lingkungan pasti saya jabanin walaupun
harus rela di laboratorium berjam-jam.
Ah Mikrobiologi, saya
mencintainya, apalagi bakteri, terkhusus bakteri fermentatif. Pendamping hidup
saya yang tak tergantikan itu, bakteri. Saya jatuh cinta tanpa batas dengan Lactobacillus dan Streptococcus. Saya rela mencari tahu apa yang disukainya,
habitatnya, “gaya hidup”nya, semuanya saya cari tahu supaya saya dapat
memeliharanya. Saya bisa bermain dengan mereka, kadang saya juga stress dan
kecewa karena kelakuan mereka, namun saya juga sering dibahagiakan oleh mereka
(saya bisa makan yoghurt dan tape kan
karena mereka).
Lingkungan, mata
kuliah yang berkaitan dengan topik ini sebisa mungkin saya ambil. Why? Karena saya suka jalan-jalan ke
alam, simpel, itu aja alasannya. Jadi saya ingin menikmati alam saya dengan knowledge makanya rela mempelajarinya.
Saya menikmati setiap keringat yang menetes, helaan nafas yang terengah-engah,
lutut yang gemetar karena jauhnya berjalan, dan kulit yang semakin coklat karena
dipanggang teriknya matahari.
Selain berkuliah,
saya berkesempatan belajar mengenai kepemimpinan di kampus saya. Berawal dari
sistem kredit point yang mengharuskan mahasiswa di kampus ini mengasah soft skill nya, maka saya terlibat dalam
beberapa kepanitiaan dan organisasi di bawah senat mahasiswa pada tahun pertama
saya berkuliah. Pada tahun kedua, saya ketiban berkat yang luar biasa, diberi
kesempatan menjadi seorang ketua senat mahasiswa di Fakultas saya. Tak pernah
terpikirkan dalam kepala saya untuk menjadi seorang ketua senat, dalam tahun
kedua berkuliah pula, memimpin kakak-kakak angkatan, dan duduk setara dengan
para pimpinan fakultas dalam rapat dinas fakultas. Awal mula pencalonan diri
saja, saya dicalonkan oleh teman-teman dan parahnya lagi sebenarnya itu hanya
untuk “meramaikan” suasana pemilihan supaya calonnya kelihatan banyak. Nah,
teori “tidak ada makhluk hidup/ organisme yang mau mati konyol” itu benar
adanya. Dalam sidang pemilihan ketua senat itu, para calon di”bantai” dengan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para senior (angkatan fosil juga ada dalam
sidang kami saat itu), lha saya yang paling junior, mahasiswa “bau kencur” yang
dianggap berani banget nyalon jadi ketua senat padahal baru memasuki tahun
kedua berkuliah tentu di”hajar” habis-habisan dalam sidang. Saat itu ada 3
calon, saya dan 2 kakak angkatan saya, satunya satu tahun di atas saya pernah
terlibat dalam kepengurusan badan perwakilan mahasiswa fakultas periode
sebelumnya dan satunya lagi dua tahun di atas saya pernah terlibat dalam badan
perwakilan mahasiswa aras universitas pada periode sebelumnya, jadi jelas
banget saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka (jomplang banget
-.-“). Saat di”bantai” itulah, esensi saya sebagai salah satu makhluk hidup dipertaruhkan,
yaitu mempertahankan diri hahahaha.... setiap pertanyaan saya jawab sebisanya
plus ngotot-ngototan dan gak tau juga kerasukan setan apa, saya bisa jawab
semua pertanyaan dengan memuaskan (menurut saya lho). Nah mungkin karena
kerasukan itu juga, sekarang kalau ditanya hal yang sama mungkin saya sudah
lupa dulu itu jawabnya apa hahahaha....
Selama satu periode
berjalan dipenuhi dinamika, benturan/ konflik kerapkali mewarnai kepemimpinan
saya namun bersyukur semua dapat terlewati. Satu hal yang tak pernah terlupa
adalah konflik dengan fakultas, saya betul-betul tidak habis pikir dengan dekan
saya saat itu. Pergi dari fakultas selama setengah tahun pada awal periode
kepemimpinannya, meninggalkan amat banyak pekerjaan, kurikulum yang diganti
(trimester menjadi dwimester), tidak ada rapat kerja fakultas, jadi saat itu
benar-benar tidak jelas ini fakultas mau dibawa kemana dan programnya diarahkan
kemana. Protes dari mahasiswa banyak sekali namun sayangnya para mahasiswa ini
tak berani menyuarakan kegelisahan mereka, badan perwakilan mahasiswa fakultas
juga tak mampu berbuat banyak. Beberapa dosen mulai ada yang mengundurkan diri,
saya sudah mulai grasak grusuk di
rapat dinas fakultas akhirnya hanya menjadi kesan dan saran yang ditampung (lha
wong dekannya kagak ada). Prinsip saya saat itu “Kalau ada kesalahan maka
suarakanlah. Bila anda tahu ada kesalahan dan tidak menyuarakannya maka anda
ikut berdosa di dalamnya. Namun bila anda menyuarakannya dan tidak mendapat
respon, setidaknya anda sudah lepas dari tanggung jawab itu”. Waktulah
yang akhirnya menjawab, beliau akhirnya memiliki catatan yang tidak terlalu
baik di mata orang banyak dan beruntung sebentar lagi masa kepemimpinannya akan
berakhir. Dan saya sepertinya tetap akan tercatat sebagai mahasiswa bandel dan
kurang ajar di kepala beliau hahahaha.... (#karepmu pak)
Tahun ketiga
berkuliah, saya ketiban berkat lagi, karena konflik yang pernah saya alami,
saya jadi dikenal dan akhirnya dapat tawaran untuk bergabung di Senat Mahasiswa
Universitas. Tawaran bergabung dalam tubuh BPM fakultas saya juga ada namun
saya tolak mentah-mentah, alasannya jelas, saya tidak mau bekerja dengan
orang-orang yang menurut saya pecundang karena cuma berani ngomong di belakang
padahal mereka punya peluang untuk bersuara. Akhirnya saya memilih belajar di
SMU dengan segala resikonya. Perkembangan pesat terasa sekali saya alami,
diberi tanggung jawab sebagai ketua bidang humanistik skill yang memiliki beban
65% dalam program tentu memiliki keasyikan tersendiri. Dua bulan terakhir di
SMU dapet kesempatan jadi sekretaris umum, sendirian tanpa staff, tentu membuat
saya kerja romusha hahahaa... Tau sendiri lah, menjelang akhir periode, segala
macam laporan pertanggungjawaban dari seluruh fakultas ngantri minta dikoreksi,
belum lagi dari SMU sendiri, mempersiapkan laporan pertanggungjawaban akhir
periode juga, akhirnya suntuk di kantor sampai malam karena sibuk koreksi
hahahaha....
Tahun keempat
berkuliah diminta mencalonkan diri jadi ketua umum SMU, waduh.. setelah
dipikir-pikir, saya lebih memilih studi saya karena saat itu sedang memasuki
tahap tugas akhir alias skripsi. Alasan saya cukup logis, papi saya baru
dioperasi jantungnya sehingga pembiayaan studi saya jelas jadi terbatas dan
saya harus berhati-hati memperhitungkan biaya skripsi dan lain-lainnya, jadi
intinya saya harus segera menyelesaikan studi saya, beruntung Tuhan menolong
saya, Universitas melalui pembantu rektor 3 membantu menopang biaya studi saya.
Kemudian saya memilih meneruskan pembelajaran soft skill saya di Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas, ketiban
berkat lagi terpilih menjadi sekretaris umum melalui sidang yang panjang, masyaowoh.... (waktu itu calon sekum ada
7 orang!!).
Mungkin inilah dilema
terbesar saya saat berada di BPMU, kehidupan personal saya dan profesionalitas
saya teruji dan jujur saya merasa kalah di sini. Posisi sekum cukup sentral
dalam roda organisasi ini, namun di sisi lain, papi saya kembali kolaps karena permasalahan di jantungnya
terjadi lagi. Kejadian kolapsnya papi
membuat saya harus mengambil keputusan untuk segera menyelesaikan skripsi, saya
benar-benar fokus dan menuangkan seluruh waktu saya untuk skripsi, dari pagi
hingga pagi lagi saya berada di laboratorium untuk riset bahkan bolak balik
Yogya-Salatiga karena saya juga menggunakan Laboratorium di UGM agar riset saya
segera selesai. Banyak yang bertanya-tanya bahkan memaki-maki saya karena
ketidakaktifan saya di BPMU. Saya memilih mengundurkan diri namun keadaan
menyulitkan sekali saat itu, saya harus diturunkan melalui sidang, sedangkan
BPMU sedang sibuk-sibuknya, akhirnya dengan segala negosiasi, saya tetap
bertahan dengan berbagai syarat. Pengalihan fokus yang ekstrim itu saya lakukan
bukan semata karena biaya studi lagi, papi pernah janji akan menghadiri wisuda
saya dan saya benar-benar ingin papi melihat saya menggunakan toga tanda saya
sudah menyelesaikan studi S1. Saya takut sekali saat itu, takut kalau papi tak
sempat lagi melihat saya wisuda, makanya saya ngebut gila-gilaan mengerjakan
skripsi saya supaya segera wisuda. Tuhan memang memberikan yang terbaik bagi
saya, skripsi saya dapat selesai dan tinggal tunggu wisuda, keadaan papi
membaik dan bersiap meluncur ke Salatiga untuk menghadiri wisuda saya, dan saya
tetap dapat berada di BPMU, mengerjakan Memorandum dan rangkaian evaluasi.
Thanks God, You give me the best. Very beautiful moment in my life.
Akhirnya
saya dapat menyelesaikan studi saya dengan baik, juga menamatkan studi soft skill. Kebahagiaan tersendiri
ketika melihat transkrip keaktifan mahasiswa saya yang mencapai angka 6550 dari
standarnya 1000 hohoho.... proses menyakitkan yang saya lalui membuahkan hal
yang baik dan berguna dalam kehidupan saya. Dan semua proses itu menempa saya
menjadi lebih baik lagi dan mengantar saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
studi ke jenjang S2. Begitu baik Tuhan bagi saya, begitu banyak yang Dia beri
untuk saya, once again, Thanks God.
#ayo
melawan dunia dan meraih mimpi bersama-sama sayang, aku menunggumu untuk sampai
ke jenjang ini juga, trust me, aku
menunggumu.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKalau ini sih salah kalau disebut mahasiswa biasa. Bagi saya, ini termasuk mahasiswa di atas rata-rata. Buktinya hanya sedikit yang bisa melakukan hal seperti ini selama kuliah. Tekad yang ditampilkan dalam tindakan saya kira merupakan faktor kunci. Selamat. Teruskan perjuanganmu. Saya yakin apa yang sudah dicapai merupakan bukti bahwa dream will be come true if you do what you want to do!
BalasHapussaya cuma mahasiswa biasa kok om, biasa bikin kacau huahahahhaha...
BalasHapuskeren :D
BalasHapus