Setelah
beberapa terakhir dapet “promosi” dari teman satu laboratorium tentang sebuah
film yang katanya dia sih seru, akhirnya saya mengcopy film tersebut dalam
flash disk saya. Judulnya Off The Map. Film ini bercerita tentang kehidupan
para dokter yang bertugas di pedalaman Amerika Selatan. Ternyata film ini oke
juga, saya benar-benar tertarik dengan dedikasi para dokter yang bertugas,
mereka menempuh segala medan berat, bahkan dari film ini saya pikir seorang
dokter yang bertugas di pedalaman kayak mereka kudu bisa menyelam, manjat pohon
(minimal pohon kelapa lah), trus juga kudu bisa bawa motor trail, nyetir mobil
jeep di medan berat, trus yang paling penting mereka benar-benar harus bisa
memanfaatkan bahan alam di sekitar mereka sebagai obat, jadi kudu kreatif dan
cerdas. Dalam setiap episodenya, para dokter selalu diperhadapkan dengan
masalah-masalah sulit, tapi tak sedikitpun semangat mereka kendor, ini nih yang
disebut jiwa kemanusiaan. Padahal yang mereka tolong ini bukan orang-orang
“mampu” loh (maksudnya dalam hal materi) dan juga untuk menolong, terkadang si
dokter bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Otomatis saya langsung
membanding-bandingkan dengan keadaan sebagian besar dokter-dokter kita. Coba
dokter seideal yang kayak dalam film itu bener-bener terwujud dalam dunia
nyata, dunia kedokteran Indonesia, wah indahnya. Jadi pas lagi butuh
pertolongan dokter, yang ditanya tuh, “sakitnya bagian mana? Apa yang anda
rasakan?” bukannya “oke, untuk tindakan pertolongan, silakan mengisi formulir
dan membayar uang admistrasi terlebih dahulu ya”, gubraakkkk…. Nyawa orang
padahal udah di ujung tanduk -_-
Keinget
cita-cita masa kecil, saya betul-betul berambisi menjadi seorang dokter. Waktu
itu bagi saya, dokter itu keren. Dalam lingkungan keluarga saya kagum dengan
ayah saya, dia itu bagaikan dokter di mata saya. Waktu saya masih kecil dan
bandelnya gak ketulungan, membuat ayah saya selalu siaga pulang kantor tiap
sore bawa perban dan peralatan P3K. sebagai anak tunggal yang gak punya temen
di rumah, otomatis saya mencari teman main di luar rumah. Rumah saya terletak
di daerah perkotaan yang padat, gak ada tama kota dekat rumah, jadi kalo main
ya kadang ke lokasi rumah yang sedang di bangun, jadi kalo kecelakaan gak
tanggung-tanggung, pernah suatu kali kaki saya terkena seng trus areal atas
mata kaki saya robek dengan daging tertinggal di seng, darahnya naujubile
banyaknya, dengan kaki berdarah saya dengan pede menyetop becak dan minta
diantar pulang. Sampai di depan rumah, nyali saya ciut ketika melihat ibu saya
sedang duduk di depan rumah menunggu saya pulang, haduh saya berusaha masuk
rumah sambil mencoba menyembunyika luka di kaki saya, tapi apa daya darahnya
merembes terlalu banyak. Ibu saya otomatis teriak-teriak sambil ngomel-ngomel trus
nelpon ayah saya. Pulang dari kantor ayah saya membawa perban yang banyak dan
mengobati luka saya. Karena kalo waktu itu saya dibawa ke rumah sakit pasti
kaki saya dijahit, nah ayah saya takut bekas jahitannya itu gak bisa hilang,
akhirnya beliau sendiri yang merawat luka saya. Jadilah setelah itu saya absen
sebulan gak bisa main di luar rumah dan setiap ayah saya pulang kantor, saya
pasti keringat dingin karena itu jadwalnya ganti perban. Nah kalo ganti perban
tuh nyerinya minta ampunnnnn, apalagi kalo pas ayah saya ngorek-ngorek bersihin
lukanya dan ngasih obat, ya ampun rasanya saya pengen lompat-lompat, apalagi
obatnya Tieh Ta Yao Gin (kalo pengen tau rasanya coba aja deh kalo luka yang
kecil aja ditetesin obat ini). Tapi walau perih, lukanya cepet kering dan
bekasnya gak terlalu nampak sekarang. Pokoknya bagi saya, ayah saya itu keren,
dia paling tau asupan makanan saya, apalagi waktu SMP dan SMA saya jadi junior
atlet basket, makanan saya semua diatur oleh ayah saya, berkat itu juga saya
paling jarang ke rumah sakit kecuali untuk check up rutin dan rutin ke dokter
gigi 6 bulan sekali. Saya pernah bilang pada ayah saya, “Pah, Lia pengen jadi
dokter, mereka keren, trus bisa nolongin orang yang kayak di tv itu, pasiennya
tu uda mau meninggal pah tapi bisa terus idup, keren deh pah” hahahha…. Ayah
saya waktu itu cuma bilang, terserah dah kamu mau jadi apa, yang penting
sekarang belajar yang bener, sekolah yang rajin.
Lulus
SMA, dengan berbekal nilai raport dan bukti prestasi rangking serta rekomendasi
dari sekolah, saya berangkat tes untuk masuk Fakultas Kedokteran. Nah tempat
tes saya ini jaraknya 40 km dari rumah saya karena Fakultas Kedokteran ini
terletak di Banjarbaru, KalSel sedangkan rumah saya di Banjarmasin. Ayah saya
rela cuti selama tiga hari buat nganter saya bolak balik pergi tes. Dan hasil
akhirnya adalah saya gak diterima karena kalah jumlah uang sumbangan
pembangunan dengan teman saya dank arena saya dari sekolah katolik jadi kami
cuma dijatahi 1 kursi saja, beda dengan siswa yang dari SMA negeri, jatah
mereka hampir 80% untuk jalur prestasi yang saya tempuh ini. Jalan lainnya saya
mencoba jalur SPMB dan gak keterima juga. Nah pas ngedaftar di Universitas
swasta dan ikutan tesnya, saya malah diterima dengan rank ketiga, tapi saya
menyerah dengan biaya sumbangan pembangunan dan biaya per semesternya, gilaaa
mahal bingittttt….. bayangkan saja itu untuk tahun 2008, uang sumbangan
pembangunannya dengan jalur prestasi yang saya tempuh, dimintai 110 juta dengan
berbagai diskon karena saya rank ketiga, nah biaya per semesternya donk, 25
juta booooo, belum termasuk praktek, prakteknya bisa nyampe 10-15 juta, kudu
beli mayat kering dan sebagainya. Trus kuliahnya di ibu kota lagi yang biaya
hidupnya aja mahal cuy. Akhirnya jatah saya init a kasih ke temen saya yang
ternyata harus bayar hampir setengah milyar untuk sumbangan pembangunan karena
dia bukan dijalur prestasi. Huffftttt…… memang bukan jatah saya sepertinya
untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya saya bilang ke ayah saya, “Pah, lia
nyerah deh, mahal banget”. Trus saya kubur deh itu mimpi saya sedalem-dalemnya.
Trus kuliah di jurusan lain yang biayanya terjangkau hahaha…. Tahun pertama
kuliah, sama sekali kagak niat, tahun kedua mulai tertarik, tahun ketiga dan
seterusnya niat ngelarin kuliah supaya dapet gelar sarjana.
Nah
kebetulan nih saya ngambil kuliahnya gak jauh-jauh amat lah dari kedokteran,
jadi tau dikit-dikit. Awal tahun 2014 ini, keponakan saya didiagnosis menderita
meningitis, jadilah saya setiap hari kudu di rumah sakit karena kondisi keponakan
saya sudah parah dan gak sadar lagi. Waktu di UGD, saya melihat kinerja para
dokter-dokter muda bagian anak itu, ya ampun bikin emosi deh. Akhirnya saya
iseng ke mereka, pas dokter spesialisnya uda selesai memeriksa keponakan saya,
saya cerca mereka yang dokter muda dengan berbagai pertanyaan. Alhasil mereka
ngejawabnya dengan gelagapan dan segera pamit keluar dari ruangan, lha
suster-susternya ditinggalin nih. Memang ya, kalo mau jadi dokter tu selain
persiapan materi yang banyak, kudunya punya hati melayani. Lha wajar sih,
mereka sekolahnya aja mahal, nah kebanyakan dari mereka mesti balikin modal
dulu baru mikir pelayanan. Dan itu terjadi dengan teman saya dan dia sendiri
mengakui itu. Sewaktu saya mahasiswa, saya sering mengantar teman saya masuk
rumah sakit, nah hal pertama yang ditanyain tuh pasti mengenai biaya, alesannya
sih administrasi getooo… pernah nih waktu saya nganter temen saya ke IGD, ada
pasien di kamar sebelah juga dalam keadaan gawat tergeletak di atas ranjang tanpa
ada yang memberi pertolongan pertama, trus saya tanya ke susternya, lha katanya
lagi nunggu istrinya datang lagi dalem perjalanan, trus saya bilang, “kenapa
gak ditindak dulu aja sus pasiennya?” tau gak jawabannya apah, “kami tidak bisa
bertindak selama administrasinya belum diselesaikan mbak”. Alhasil saya hampir
jambak susternya tapi ga jadi sih, gak lucu saya bikin perkara yang sebenarnya
bukan urusan saya (urusan kemanusiaan sih sebenarnya). Tapi si suster juga gak
bisa disalahin sepenuhnya juga, kan dia hanya menjalankan prosedur yang
diterapkan rumah sakit itu kali yak. Yah gak semua dokter sih begitu, saya
punya teman yang sekarang jadi dokter dan bertugas di pedalaman Kalimatan Timur
sana dan saya acungi jempol. Dia sama sekali tidak meminta bayaran atas jasanya.
Kebanyakan peralatan dan obat-obatan yang ada di kiliniknya itu berasal dari
kocek pribadi dan dia pure pelayanan. Dia juga sering mencari sponsor donator
dari kolega-koleganya maupun kolega ayahnya, secara ayahnya juga dokter.
Setidaknya masih ada “surga” di dunia ini.
Jadi
dokter memang gak mudah, selain berkutat dengan masalah materi, bahan
belajarnya juga bukan main susahnya. Saya pernah diundang oleh teman saya dalam
sebuah open house Fakultas Kedokteran, saya diajak melihat-lihat seluruh
laboratorium mereka dan diceritain tentang apa aja yang mereka pelajari untuk
jadi dokter umum. Wah, it’s no joke! Yah itulah konsekuensi logis dari sebuah
pilihan dan tuntutan profesionalitas.
Kembali
ke film Off The Map tadi, semoga banyak orang bisa terinspirasi dari kisah
mereka, bayangin aja si dokter harus membawa pasien yang terlilit anaconda ke
klinik karena kalo anacondanya lepas maka bisa terjadi pendarahan, trus
melakukan amputasi di dalam laut karena kaki si pasien terjepit coral, dan
banyak hal-hal ekstrim lainnya, termasuk menolong pasien tanpa pandang bulu
karena ternyata yang mereka tolong merupakan seorang tentara NAZI yang
bersembunyi di pedalaman tersebut selama 30 tahun. Inilah kemanusiaan,
manusiawi itu ketika memanusiakan manusia.
#ngomong-ngomong
gegara film ini, masih pengen jadi dokter deh hahaha… J
By. Rachel Fitria
18 Mei 2014, 01.19 AM
Salatiga,
Jawa Tengah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar