Minggu, 18 Mei 2014

Wanna be a doctor?

Setelah beberapa terakhir dapet “promosi” dari teman satu laboratorium tentang sebuah film yang katanya dia sih seru, akhirnya saya mengcopy film tersebut dalam flash disk saya. Judulnya Off The Map. Film ini bercerita tentang kehidupan para dokter yang bertugas di pedalaman Amerika Selatan. Ternyata film ini oke juga, saya benar-benar tertarik dengan dedikasi para dokter yang bertugas, mereka menempuh segala medan berat, bahkan dari film ini saya pikir seorang dokter yang bertugas di pedalaman kayak mereka kudu bisa menyelam, manjat pohon (minimal pohon kelapa lah), trus juga kudu bisa bawa motor trail, nyetir mobil jeep di medan berat, trus yang paling penting mereka benar-benar harus bisa memanfaatkan bahan alam di sekitar mereka sebagai obat, jadi kudu kreatif dan cerdas. Dalam setiap episodenya, para dokter selalu diperhadapkan dengan masalah-masalah sulit, tapi tak sedikitpun semangat mereka kendor, ini nih yang disebut jiwa kemanusiaan. Padahal yang mereka tolong ini bukan orang-orang “mampu” loh (maksudnya dalam hal materi) dan juga untuk menolong, terkadang si dokter bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Otomatis saya langsung membanding-bandingkan dengan keadaan sebagian besar dokter-dokter kita. Coba dokter seideal yang kayak dalam film itu bener-bener terwujud dalam dunia nyata, dunia kedokteran Indonesia, wah indahnya. Jadi pas lagi butuh pertolongan dokter, yang ditanya tuh, “sakitnya bagian mana? Apa yang anda rasakan?” bukannya “oke, untuk tindakan pertolongan, silakan mengisi formulir dan membayar uang admistrasi terlebih dahulu ya”, gubraakkkk…. Nyawa orang padahal udah di ujung tanduk -_-
Keinget cita-cita masa kecil, saya betul-betul berambisi menjadi seorang dokter. Waktu itu bagi saya, dokter itu keren. Dalam lingkungan keluarga saya kagum dengan ayah saya, dia itu bagaikan dokter di mata saya. Waktu saya masih kecil dan bandelnya gak ketulungan, membuat ayah saya selalu siaga pulang kantor tiap sore bawa perban dan peralatan P3K. sebagai anak tunggal yang gak punya temen di rumah, otomatis saya mencari teman main di luar rumah. Rumah saya terletak di daerah perkotaan yang padat, gak ada tama kota dekat rumah, jadi kalo main ya kadang ke lokasi rumah yang sedang di bangun, jadi kalo kecelakaan gak tanggung-tanggung, pernah suatu kali kaki saya terkena seng trus areal atas mata kaki saya robek dengan daging tertinggal di seng, darahnya naujubile banyaknya, dengan kaki berdarah saya dengan pede menyetop becak dan minta diantar pulang. Sampai di depan rumah, nyali saya ciut ketika melihat ibu saya sedang duduk di depan rumah menunggu saya pulang, haduh saya berusaha masuk rumah sambil mencoba menyembunyika luka di kaki saya, tapi apa daya darahnya merembes terlalu banyak. Ibu saya otomatis teriak-teriak sambil ngomel-ngomel trus nelpon ayah saya. Pulang dari kantor ayah saya membawa perban yang banyak dan mengobati luka saya. Karena kalo waktu itu saya dibawa ke rumah sakit pasti kaki saya dijahit, nah ayah saya takut bekas jahitannya itu gak bisa hilang, akhirnya beliau sendiri yang merawat luka saya. Jadilah setelah itu saya absen sebulan gak bisa main di luar rumah dan setiap ayah saya pulang kantor, saya pasti keringat dingin karena itu jadwalnya ganti perban. Nah kalo ganti perban tuh nyerinya minta ampunnnnn, apalagi kalo pas ayah saya ngorek-ngorek bersihin lukanya dan ngasih obat, ya ampun rasanya saya pengen lompat-lompat, apalagi obatnya Tieh Ta Yao Gin (kalo pengen tau rasanya coba aja deh kalo luka yang kecil aja ditetesin obat ini). Tapi walau perih, lukanya cepet kering dan bekasnya gak terlalu nampak sekarang. Pokoknya bagi saya, ayah saya itu keren, dia paling tau asupan makanan saya, apalagi waktu SMP dan SMA saya jadi junior atlet basket, makanan saya semua diatur oleh ayah saya, berkat itu juga saya paling jarang ke rumah sakit kecuali untuk check up rutin dan rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali. Saya pernah bilang pada ayah saya, “Pah, Lia pengen jadi dokter, mereka keren, trus bisa nolongin orang yang kayak di tv itu, pasiennya tu uda mau meninggal pah tapi bisa terus idup, keren deh pah” hahahha…. Ayah saya waktu itu cuma bilang, terserah dah kamu mau jadi apa, yang penting sekarang belajar yang bener, sekolah yang rajin.
Lulus SMA, dengan berbekal nilai raport dan bukti prestasi rangking serta rekomendasi dari sekolah, saya berangkat tes untuk masuk Fakultas Kedokteran. Nah tempat tes saya ini jaraknya 40 km dari rumah saya karena Fakultas Kedokteran ini terletak di Banjarbaru, KalSel sedangkan rumah saya di Banjarmasin. Ayah saya rela cuti selama tiga hari buat nganter saya bolak balik pergi tes. Dan hasil akhirnya adalah saya gak diterima karena kalah jumlah uang sumbangan pembangunan dengan teman saya dank arena saya dari sekolah katolik jadi kami cuma dijatahi 1 kursi saja, beda dengan siswa yang dari SMA negeri, jatah mereka hampir 80% untuk jalur prestasi yang saya tempuh ini. Jalan lainnya saya mencoba jalur SPMB dan gak keterima juga. Nah pas ngedaftar di Universitas swasta dan ikutan tesnya, saya malah diterima dengan rank ketiga, tapi saya menyerah dengan biaya sumbangan pembangunan dan biaya per semesternya, gilaaa mahal bingittttt….. bayangkan saja itu untuk tahun 2008, uang sumbangan pembangunannya dengan jalur prestasi yang saya tempuh, dimintai 110 juta dengan berbagai diskon karena saya rank ketiga, nah biaya per semesternya donk, 25 juta booooo, belum termasuk praktek, prakteknya bisa nyampe 10-15 juta, kudu beli mayat kering dan sebagainya. Trus kuliahnya di ibu kota lagi yang biaya hidupnya aja mahal cuy. Akhirnya jatah saya init a kasih ke temen saya yang ternyata harus bayar hampir setengah milyar untuk sumbangan pembangunan karena dia bukan dijalur prestasi. Huffftttt…… memang bukan jatah saya sepertinya untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya saya bilang ke ayah saya, “Pah, lia nyerah deh, mahal banget”. Trus saya kubur deh itu mimpi saya sedalem-dalemnya. Trus kuliah di jurusan lain yang biayanya terjangkau hahaha…. Tahun pertama kuliah, sama sekali kagak niat, tahun kedua mulai tertarik, tahun ketiga dan seterusnya niat ngelarin kuliah supaya dapet gelar sarjana.
Nah kebetulan nih saya ngambil kuliahnya gak jauh-jauh amat lah dari kedokteran, jadi tau dikit-dikit. Awal tahun 2014 ini, keponakan saya didiagnosis menderita meningitis, jadilah saya setiap hari kudu di rumah sakit karena kondisi keponakan saya sudah parah dan gak sadar lagi. Waktu di UGD, saya melihat kinerja para dokter-dokter muda bagian anak itu, ya ampun bikin emosi deh. Akhirnya saya iseng ke mereka, pas dokter spesialisnya uda selesai memeriksa keponakan saya, saya cerca mereka yang dokter muda dengan berbagai pertanyaan. Alhasil mereka ngejawabnya dengan gelagapan dan segera pamit keluar dari ruangan, lha suster-susternya ditinggalin nih. Memang ya, kalo mau jadi dokter tu selain persiapan materi yang banyak, kudunya punya hati melayani. Lha wajar sih, mereka sekolahnya aja mahal, nah kebanyakan dari mereka mesti balikin modal dulu baru mikir pelayanan. Dan itu terjadi dengan teman saya dan dia sendiri mengakui itu. Sewaktu saya mahasiswa, saya sering mengantar teman saya masuk rumah sakit, nah hal pertama yang ditanyain tuh pasti mengenai biaya, alesannya sih administrasi getooo… pernah nih waktu saya nganter temen saya ke IGD, ada pasien di kamar sebelah juga dalam keadaan gawat tergeletak di atas ranjang tanpa ada yang memberi pertolongan pertama, trus saya tanya ke susternya, lha katanya lagi nunggu istrinya datang lagi dalem perjalanan, trus saya bilang, “kenapa gak ditindak dulu aja sus pasiennya?” tau gak jawabannya apah, “kami tidak bisa bertindak selama administrasinya belum diselesaikan mbak”. Alhasil saya hampir jambak susternya tapi ga jadi sih, gak lucu saya bikin perkara yang sebenarnya bukan urusan saya (urusan kemanusiaan sih sebenarnya). Tapi si suster juga gak bisa disalahin sepenuhnya juga, kan dia hanya menjalankan prosedur yang diterapkan rumah sakit itu kali yak. Yah gak semua dokter sih begitu, saya punya teman yang sekarang jadi dokter dan bertugas di pedalaman Kalimatan Timur sana dan saya acungi jempol. Dia sama sekali tidak meminta bayaran atas jasanya. Kebanyakan peralatan dan obat-obatan yang ada di kiliniknya itu berasal dari kocek pribadi dan dia pure pelayanan. Dia juga sering mencari sponsor donator dari kolega-koleganya maupun kolega ayahnya, secara ayahnya juga dokter. Setidaknya masih ada “surga” di dunia ini.
Jadi dokter memang gak mudah, selain berkutat dengan masalah materi, bahan belajarnya juga bukan main susahnya. Saya pernah diundang oleh teman saya dalam sebuah open house Fakultas Kedokteran, saya diajak melihat-lihat seluruh laboratorium mereka dan diceritain tentang apa aja yang mereka pelajari untuk jadi dokter umum. Wah, it’s no joke! Yah itulah konsekuensi logis dari sebuah pilihan dan tuntutan profesionalitas.
Kembali ke film Off The Map tadi, semoga banyak orang bisa terinspirasi dari kisah mereka, bayangin aja si dokter harus membawa pasien yang terlilit anaconda ke klinik karena kalo anacondanya lepas maka bisa terjadi pendarahan, trus melakukan amputasi di dalam laut karena kaki si pasien terjepit coral, dan banyak hal-hal ekstrim lainnya, termasuk menolong pasien tanpa pandang bulu karena ternyata yang mereka tolong merupakan seorang tentara NAZI yang bersembunyi di pedalaman tersebut selama 30 tahun. Inilah kemanusiaan, manusiawi itu ketika memanusiakan manusia.
#ngomong-ngomong gegara film ini, masih pengen jadi dokter deh hahaha… J

By. Rachel Fitria
18 Mei 2014, 01.19 AM

Salatiga, Jawa Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar