Minggu, 18 Mei 2014

Kehilangan

Seorang teman saya pernah berkata kepada saya, “Fit, kehilangan itu sudah pasti, tapi harapan jangan sampai mati”. Ya, kehilangan, satu kata yang tidak saya suka, saya tidak suka kehilangan! Hal ini membuat saya cukup protektif dalam segala hal dan beruntung saya tidak pernah merasa kehilangan. Hingga suatu saat, saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya bosan, ingin rasanya merasakan kehilangan, saya merasa lemah, saya ingin dikuatkan, challenge saya ya Tuhan”. Lama sekali rasanya waktu berlalu ketika saya mengucapkan itu pada Tuhan, namun beberapa waktu terakhir ini, Tuhan betul-betul menguji saya, memperkuat saya. Ya kehilangan seseorang yang dikasihi itu benar-benar menguras emosi saya, saya percaya padanya, saya mengasihi dia, saya berusaha semaksimal mungkin untuk tetap memilikinya, namun dia tidak ingin saya miliki, dia memilih menghilang dari hati saya. Sakit sekali, bahkan butuh waktu lebih dari setahun untuk benar-benar rela melepaskannya, rela menerima kehilangan dirinya. Saya marah pada Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? Saya benar-benar tidak suka rasa sakitnya. Namun saya teringat permintaan saya pada Tuhan waktu dulu, ya saya yang meminta ini, yang saya lakukan hanya dapat mengucap syukur bahwa Tuhan ternyata mendengar saya dan bahkan mengabulkannya serta diberikan solusinya. Saya harus bangkit dan menjadi lebih kuat lagi.
Baru saja bangkit dari rasa sakit kehilangan, saya kembali harus kehilangan lagi. Ya seorang yang saya anggap sebagai kekasih, sahabat, kakak saya, kembali meninggalkan saya, tidak tanggung-tanggung, dia meninggalkan saya selamanya. Saya kehilangan dia untuk selamanya, sakit? Banget!! Namun saya bersyukur pernah merasakan kehilangan sebelumnya, sehingga saya menjadi lebih kuat ketika menghadapinya. Dengan tegar saya dapat mengucapkan di nisan salibnya, “selamat jalan ko, pasti tempatmu lebih baik bersama Bapa di Surga”. Saya kembali merenung dan terus mengucap syukur, terima kasih Bapa, saya telah menjadi lebih kuat. Namun Tuhan ingin menjadikan saya lebih kuat lagi.
21 Januari 2014, ketika masih berkutat dengan kerjaan di tempat kerja, sebuah telpon dari ibu saya benar-benar mengagetkan saya, beliau mengatakan bahwa ayah saya baru saja dipanggil yang Maha Kuasa. Saya shock, terdiam beberapa saat, bahkan tidak setetespun air mata saya mengalir. Saya langsung menutup telpon dan berpikir serta bertanya pada Tuhan, apakah kali ini Dia menguji saya lagi? Menginginkan saya lebih kuat lagi? Tapi kenapa harus ayah saya? Saya benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa, selain terdiam dan bersyukur bahwa saya punya teman-teman yang luar biasa, mereka menolong saya dengan maksimal, mencarikan saya tiket bahkan menghibur serta mengantar saya sampai ke airport. 22 Januari 2014, saya tiba di airport Jakarta, om saya menunggu saya dengan tatapan yang tidak dapat saya mengerti. Sepanjang perjalanan dari airport menuju rumah duka, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut saya, bahkan om serta ibu saya tidak berani menanyakan apapun kepada saya. Tiba di halaman rumah duka, saya terdiam sesaat, berdiri dengan tatapan kosong, kemudian melihat sekeliling halaman rumah duka, saya terpekur melihat banyak karangan bunga dengan nama ayah saya tercantum di sana. Lantas saya melangkahkan kaki ke lantai 2 rumah duka, tempat ayah saya disemayamkan, dari pintu depan saya melihat peti putih itu, saya berjalan perlahan masuk dan mendapati ayah saya sudah tertidur dengan damai untuk selamanya. Saya benar-benar tidak sanggup lagi membendung air mata saya, saya menangis sejadi-jadinya di samping ayah saya dan berkata, “pah, Lia belum siap ditinggalin, kenapa secepat ini?” tangis keluarga saya pecah seketika, semuanya meminta maaf kepada ayah saya. Kemudian saya bertanya-tanya pada Tuhan, inikah caraMu untuk menjadikan saya lebih kuat dan lebih kuat lagi Bapa? Saya memandang ibu saya yang terisak dan mulai berfikir, ya saya lah yang sekarang berkewajiban menjaga ibu saya dan bertanggung jawab menjaga keluarga besar saya, karena ayah saya merupakan anak pertama dari 8 bersaudara. Saya duduk dipojok ruang kamar duka sambil merenung, ya Bapa, saya tahu tidak ada yang lebih indah dibandingkan rencanaMu, saya yakin ada banyak hal yang dapat saya terima dari segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan saya. Selama 3 hari ayah saya disemayamkan di rumah duka, para keluarga dan sahabat terus memberi dukungan dan penghiburan, dan di sini saya belajar bahwa apa yang kita tuai itulah yang kita tabur, saya belajar dari papa untuk hidup jujur dan menuai kepercayaan orang banyak. 25 Januari 2014, kami keluarga dan para sahabat mengantar papa ke krematorium di Marunda, Bekasi. Setelah abu papa ditabur di laut, entah mengapa ada perasaan lega di hati saya, ya setelah berhari-hari saya merenung, inilah mungkin yang terbaik buat ayah saya. Melepaskan rasa sakitnya. Ayah saya menghilangkan rasa sakitnya ketika di dunia. Mungkin papa sudah lelah dengan sakitnya, pasti dia ingin melepaskannya, dan dia cukup yakin saya mampu menghadapi segala yang ada di depan saya.

Terima kasih Ar, ko En, papa, kalian mengajarkan aku untuk menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi. Khususnya bagi Tuhan Yesus, terima kasih sudah mendengar setiap permintaan anakMu ini bahkan mengabulkannya dan memberi solusi serta penghiburan sekaligus. Tuhan, boleh Lia minta istirahat sejenak? kehilangan bertubi-tubi ternyata melelahkan juga. Ajar juga agar Lia tetap selalu mengucap syukur ya Bapa J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar