Seorang teman saya
pernah berkata kepada saya, “Fit, kehilangan itu sudah pasti, tapi harapan
jangan sampai mati”. Ya, kehilangan, satu kata yang tidak saya suka, saya tidak
suka kehilangan! Hal ini membuat saya cukup protektif dalam segala hal dan
beruntung saya tidak pernah merasa kehilangan. Hingga suatu saat, saya berkata
kepada Tuhan, “Tuhan, saya bosan, ingin rasanya merasakan kehilangan, saya
merasa lemah, saya ingin dikuatkan, challenge
saya ya Tuhan”. Lama sekali rasanya waktu berlalu ketika saya mengucapkan
itu pada Tuhan, namun beberapa waktu terakhir ini, Tuhan betul-betul menguji
saya, memperkuat saya. Ya kehilangan seseorang yang dikasihi itu benar-benar
menguras emosi saya, saya percaya padanya, saya mengasihi dia, saya berusaha
semaksimal mungkin untuk tetap memilikinya, namun dia tidak ingin saya miliki,
dia memilih menghilang dari hati saya. Sakit sekali, bahkan butuh waktu lebih
dari setahun untuk benar-benar rela melepaskannya, rela menerima kehilangan
dirinya. Saya marah pada Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali? Saya benar-benar
tidak suka rasa sakitnya. Namun saya teringat permintaan saya pada Tuhan waktu
dulu, ya saya yang meminta ini, yang saya lakukan hanya dapat mengucap syukur
bahwa Tuhan ternyata mendengar saya dan bahkan mengabulkannya serta diberikan
solusinya. Saya harus bangkit dan menjadi lebih kuat lagi.
Baru saja bangkit dari
rasa sakit kehilangan, saya kembali harus kehilangan lagi. Ya seorang yang saya
anggap sebagai kekasih, sahabat, kakak saya, kembali meninggalkan saya, tidak
tanggung-tanggung, dia meninggalkan saya selamanya. Saya kehilangan dia untuk
selamanya, sakit? Banget!! Namun saya bersyukur pernah merasakan kehilangan
sebelumnya, sehingga saya menjadi lebih kuat ketika menghadapinya. Dengan tegar
saya dapat mengucapkan di nisan salibnya, “selamat jalan ko, pasti tempatmu
lebih baik bersama Bapa di Surga”. Saya kembali merenung dan terus mengucap
syukur, terima kasih Bapa, saya telah menjadi lebih kuat. Namun Tuhan ingin
menjadikan saya lebih kuat lagi.
21
Januari 2014, ketika masih berkutat dengan kerjaan di tempat kerja, sebuah
telpon dari ibu saya benar-benar mengagetkan saya, beliau mengatakan bahwa ayah
saya baru saja dipanggil yang Maha Kuasa. Saya shock, terdiam beberapa saat,
bahkan tidak setetespun air mata saya mengalir. Saya langsung menutup telpon
dan berpikir serta bertanya pada Tuhan, apakah kali ini Dia menguji saya lagi?
Menginginkan saya lebih kuat lagi? Tapi kenapa harus ayah saya? Saya
benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa, selain terdiam dan bersyukur bahwa
saya punya teman-teman yang luar biasa, mereka menolong saya dengan maksimal,
mencarikan saya tiket bahkan menghibur serta mengantar saya sampai ke airport.
22 Januari 2014, saya tiba di airport Jakarta, om saya menunggu saya dengan
tatapan yang tidak dapat saya mengerti. Sepanjang perjalanan dari airport
menuju rumah duka, tidak sepatah kata pun keluar dari mulut saya, bahkan om
serta ibu saya tidak berani menanyakan apapun kepada saya. Tiba di halaman
rumah duka, saya terdiam sesaat, berdiri dengan tatapan kosong, kemudian
melihat sekeliling halaman rumah duka, saya terpekur melihat banyak karangan
bunga dengan nama ayah saya tercantum di sana. Lantas saya melangkahkan kaki ke
lantai 2 rumah duka, tempat ayah saya disemayamkan, dari pintu depan saya
melihat peti putih itu, saya berjalan perlahan masuk dan mendapati ayah saya
sudah tertidur dengan damai untuk selamanya. Saya benar-benar tidak sanggup
lagi membendung air mata saya, saya menangis sejadi-jadinya di samping ayah
saya dan berkata, “pah, Lia belum siap ditinggalin, kenapa secepat ini?” tangis
keluarga saya pecah seketika, semuanya meminta maaf kepada ayah saya. Kemudian
saya bertanya-tanya pada Tuhan, inikah caraMu untuk menjadikan saya lebih kuat
dan lebih kuat lagi Bapa? Saya memandang ibu saya yang terisak dan mulai
berfikir, ya saya lah yang sekarang berkewajiban menjaga ibu saya dan
bertanggung jawab menjaga keluarga besar saya, karena ayah saya merupakan anak
pertama dari 8 bersaudara. Saya duduk dipojok ruang kamar duka sambil merenung,
ya Bapa, saya tahu tidak ada yang lebih indah dibandingkan rencanaMu, saya
yakin ada banyak hal yang dapat saya terima dari segala peristiwa yang terjadi
dalam kehidupan saya. Selama 3 hari ayah saya disemayamkan di rumah duka, para
keluarga dan sahabat terus memberi dukungan dan penghiburan, dan di sini saya
belajar bahwa apa yang kita tuai itulah yang kita tabur, saya belajar dari papa
untuk hidup jujur dan menuai kepercayaan orang banyak. 25 Januari 2014, kami
keluarga dan para sahabat mengantar papa ke krematorium di Marunda, Bekasi.
Setelah abu papa ditabur di laut, entah mengapa ada perasaan lega di hati saya,
ya setelah berhari-hari saya merenung, inilah mungkin yang terbaik buat ayah
saya. Melepaskan rasa sakitnya. Ayah saya menghilangkan rasa sakitnya ketika di
dunia. Mungkin papa sudah lelah dengan sakitnya, pasti dia ingin melepaskannya,
dan dia cukup yakin saya mampu menghadapi segala yang ada di depan saya.
Terima
kasih Ar, ko En, papa, kalian mengajarkan aku untuk menjadi lebih kuat dan lebih
kuat lagi. Khususnya bagi Tuhan Yesus, terima kasih sudah mendengar setiap
permintaan anakMu ini bahkan mengabulkannya dan memberi solusi serta
penghiburan sekaligus. Tuhan, boleh Lia minta istirahat sejenak? kehilangan
bertubi-tubi ternyata melelahkan juga. Ajar juga agar Lia tetap selalu mengucap
syukur ya Bapa J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar