Waktu memang selalu membawa manusia kepada gerbang paling menakutkan.
Kerentaan. Sebuah ketidakabadian umum yang menjadi rahasia Tuhan karena
siklusnya selalu berputar seperti kincir air pada dam, sumber yang terinjak
justru menghasilkan energi. Waktu adalah
musuh masa dan menjadi teman terbaik sekaligus. Ketidakabadian yang abadi.
Karenanya orang-orang takut sendiri. Waktu adalah gambaran kerentaan bumi
seperti pemintal yang menyebarkan benangnya lalu menggulung dan menjalin pada
tiap lembarnya. Pengorbanan ulat sutra demi keindahan. Bumi ini telah tua,
wajahnya telah berkerut. Seperti halnya wanita yang merenta, maka cakar ayam di
ujung matanya dan flek hitam di pipinya. Sebuah kematangan yang tak lagi
mangkal.
Aku mencintaimu seperti kalangan mencintai
rembulan serta kembang sedap malam yang tersapa embun tengah turun, dari uap
sejati menjadi titik-titik tanpa tepi sebab pada kelopaknya ia bersandar hingga
pagi membawa sinar lalu kering tertelan hangat matahari. Ia jadi uap lagi.
Hatiku padamu jadi uap lagi. Aku tak pernah bisa mengungkapkannya padamu, aku
menyesalinya dan aku tak akan mengulangi kesalahan ini. Aku telah belajar.
Aku kini tahu siapa aku. Aku
dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku adalah dogma dari aliran empiris dan
aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak
menyesali jalanku.
What we are right now, is a product of our past
If we don’t like what we see today, we change it
We make it happen
It may not be for the benefit of our own, but by
God, it will be for the benefit of our children’s children
-R.K-

percayalah kita semua bukan batu tulis kosong. semua dibekali gen yang pada saat dan usaha yang tepat akan berekspresi sempurna.. ancorrr..
BalasHapus