Rabu, 26 Desember 2012

Waktu


Waktu memang selalu membawa manusia kepada gerbang paling menakutkan. Kerentaan. Sebuah ketidakabadian umum yang menjadi rahasia Tuhan karena siklusnya selalu berputar seperti kincir air pada dam, sumber yang terinjak justru menghasilkan energi. Waktu adalah musuh masa dan menjadi teman terbaik sekaligus. Ketidakabadian yang abadi. Karenanya orang-orang takut sendiri. Waktu adalah gambaran kerentaan bumi seperti pemintal yang menyebarkan benangnya lalu menggulung dan menjalin pada tiap lembarnya. Pengorbanan ulat sutra demi keindahan. Bumi ini telah tua, wajahnya telah berkerut. Seperti halnya wanita yang merenta, maka cakar ayam di ujung matanya dan flek hitam di pipinya. Sebuah kematangan yang tak lagi mangkal.
            Aku mencintaimu seperti kalangan mencintai rembulan serta kembang sedap malam yang tersapa embun tengah turun, dari uap sejati menjadi titik-titik tanpa tepi sebab pada kelopaknya ia bersandar hingga pagi membawa sinar lalu kering tertelan hangat matahari. Ia jadi uap lagi. Hatiku padamu jadi uap lagi. Aku tak pernah bisa mengungkapkannya padamu, aku menyesalinya dan aku tak akan mengulangi kesalahan ini. Aku telah belajar.
            Aku kini tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku.


What we are right now, is a product of our past
If we don’t like what we see today, we change it
We make it happen
It may not be for the benefit of our own, but by God, it will be for the benefit of our children’s children
-R.K-

1 komentar:

  1. percayalah kita semua bukan batu tulis kosong. semua dibekali gen yang pada saat dan usaha yang tepat akan berekspresi sempurna.. ancorrr..

    BalasHapus