Kematian adalah apa
yang paling titik. ‘Apa’ dan bukan ‘alpa’ sebab ia sangat berisi dan tidak
kosong atau akhir. Ia hanya salah satu tanda baca, titik yang paling titik.
Jeda. Kematian adalah pintu dari segala sendiri dan jalan dari awalnya akhir.
Kematian adalah antara. Kematian warnanya abu-abu, lalu hitam, lalu ungu.
Kematian warnanya temaram. Berbau kembang Kamboja dan sedap malam. Berbau hio
yang dibakar. Bersuara tangis basah pada wajah-wajah sedih dan menghitam, suram
kala mereka mulai menangis lagi karena mengingat akan kematian dan ia yang
mati. Kematian adalah penantian dari pertemuan. Kematian hanya antara. Kematian
adalah rezeki bagi tukang peti mati yang mengaryakan profesinya pada yang tak
lagi hidup, bagi mbok penjual kembang yang segarnya ditaburi di jalan dan di
atas nisan, bagi sang pewaris yang ditinggalkan harta bahkan mungkin keris,
bagi belatung yang menyantap kenyang daging membusuk, bagi krematorium yang
mengabukan tubuh tak bernyawa. Tapi kematian merupakan kesialan bagi cacing
pita dalam raga tak bernyawa sebab oksigen tak lagi diembus, sari makanan tak
lagi terserap, organ tak lagi bekerja, matilah si cacing pita.
Jiwaku
adalah jiwa bebas
Merdeka
tanpa jeruji
Bahkan
tanpa nama yang mengikat diri
Sedari lahir hingga mati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar