Rabu, 26 Desember 2012

Kematian


Kematian adalah apa yang paling titik. ‘Apa’ dan bukan ‘alpa’ sebab ia sangat berisi dan tidak kosong atau akhir. Ia hanya salah satu tanda baca, titik yang paling titik. Jeda. Kematian adalah pintu dari segala sendiri dan jalan dari awalnya akhir. Kematian adalah antara. Kematian warnanya abu-abu, lalu hitam, lalu ungu. Kematian warnanya temaram. Berbau kembang Kamboja dan sedap malam. Berbau hio yang dibakar. Bersuara tangis basah pada wajah-wajah sedih dan menghitam, suram kala mereka mulai menangis lagi karena mengingat akan kematian dan ia yang mati. Kematian adalah penantian dari pertemuan. Kematian hanya antara. Kematian adalah rezeki bagi tukang peti mati yang mengaryakan profesinya pada yang tak lagi hidup, bagi mbok penjual kembang yang segarnya ditaburi di jalan dan di atas nisan, bagi sang pewaris yang ditinggalkan harta bahkan mungkin keris, bagi belatung yang menyantap kenyang daging membusuk, bagi krematorium yang mengabukan tubuh tak bernyawa. Tapi kematian merupakan kesialan bagi cacing pita dalam raga tak bernyawa sebab oksigen tak lagi diembus, sari makanan tak lagi terserap, organ tak lagi bekerja, matilah si cacing pita.

Jiwaku adalah jiwa bebas
Merdeka tanpa jeruji
Bahkan tanpa nama yang mengikat diri
Sedari lahir hingga mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar