Rabu, 26 Desember 2012

Derai Hujan dan Sedekat Hati


Senja melepuh dalam hening, seperti juga aku yang membisu dalam percikan bara dirinya yang menghujaniku
Ada kedalaman dalam bola matanya, yang terus menyeretku masuk
Dan selalu setiap ia ada, arus itu akan menari-nari menggodaku untuk bermain-main dan tiba-tiba aku sudah tenggelam dalam pusaran yang diciptakannya
Apakah ini pusaran yang tak kukenali?
Udara selalu menepuk wajahku berpaling ke arahnya
Lalu saat berikutnya, imaji senyumnya terus terpampang menggantikan rumus-rumus kimia di papan tulis, atau suaranya selalu mengalir dari bibir para pengajar di depan kelas
Ini harus dihentikan!

Hujan di luar jendela itu menjadi pelampiasanku
Mungkin derai hujan itu mampu menghapusnya
Alam semesta pun sepertinya telah bekerjasama untuk mencurahkan perhatian pada segala yang ada padanya
Segala yang kutemukan pada dirinya, tiba-tiba menjadi begitu penting
Aku terjebak dalam kelam awan dan dinginnya hujan
Namun untunglah aku masih ingat, masih ada harap akan indah pelangi dan hangat mentari
Malam menjelang, semakin lelah dan suntuk
Ia menelanku perlahan-lahan bersama diriku yang tenggelam dalam pendar senyumnya menata celah pada pekat malam dengan tarian cahaya
Apakah aku sampai pada saat harus mengakhiri kegamangan ini?
Ya, Ini harus dihentikan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar