Senja melepuh dalam
hening, seperti juga aku yang membisu dalam percikan bara dirinya yang
menghujaniku
Ada kedalaman dalam
bola matanya, yang terus menyeretku masuk
Dan selalu setiap ia
ada, arus itu akan menari-nari menggodaku untuk bermain-main dan tiba-tiba aku
sudah tenggelam dalam pusaran yang diciptakannya
Apakah ini pusaran
yang tak kukenali?
Udara selalu menepuk
wajahku berpaling ke arahnya
Lalu saat berikutnya,
imaji senyumnya terus terpampang menggantikan rumus-rumus kimia di papan tulis,
atau suaranya selalu mengalir dari bibir para pengajar di depan kelas
Ini harus dihentikan!
Hujan di luar jendela
itu menjadi pelampiasanku
Mungkin derai hujan
itu mampu menghapusnya
Alam semesta pun
sepertinya telah bekerjasama untuk mencurahkan perhatian pada segala yang ada
padanya
Segala yang kutemukan
pada dirinya, tiba-tiba menjadi begitu penting
Aku terjebak dalam
kelam awan dan dinginnya hujan
Namun untunglah aku
masih ingat, masih ada harap akan indah pelangi dan hangat mentari
Malam menjelang, semakin
lelah dan suntuk
Ia menelanku
perlahan-lahan bersama diriku yang tenggelam dalam pendar senyumnya menata
celah pada pekat malam dengan tarian cahaya
Apakah aku sampai
pada saat harus mengakhiri kegamangan ini?
Ya, Ini harus
dihentikan!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar