Rabu, 26 Desember 2012

Lorong Putih


“Kehilangan itu sudah pasti tapi harapan jangan sampai mati”
Subuh ini aku terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh, punggung yang nyeri, dan perut yang tidak keruan rasanya. Kutatap tembok putih tinggi yang mengkungkungku, mereka membisu dan menatapku dalam keheningan. Kuambil remote televisi dan kuhidupkan tv itu, ternyata ulasan tentang lagu-lagu Ada Band, waktu itu yang dibahas adalah lagu “Yang Terbaik Bagimu”. Hmmm... lagu ini begitu penuh kenangan. Bagiku tak hanya makna seorang ayah di balik lagu ini, namun ada pengalaman lain di baliknya.
Kupejamkan mata, kuresapi lagu ini, tak terasa ada butiran hangat mengalir di pipi. Ya, aku mengingatmu sahabat, aku merindukanmu “Yohannes Alfa”. Beberapa waktu lalu, siapa sangka aku berjumpa denganmu di lorong itu. Kau berdiri di ujung lorong itu, tersenyum manis, mengenakan serba putih, namun mengapa aku tak bisa menujumu? Langkahku terasa berat dan tak sampai-sampai, kau begitu jauh di ujung lorong itu. Akhirnya aku menyerah alfa, aku hanya melambaikan tanganku tanda membalas sapaan dan senyumanmu. Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kau membalikkan tubuhmu dan pergi menghilang ditelan cahaya putih terang di ujung lorong itu, namun hatiku terasa lega, kau bahagia di “sana” J
Hai Alfa, aku teringat 7 tahun lalu, saat kau masih bisa main ke rumah, bercerita banyak, mendengarkan curhatku. Kau pendiam, banyak mendengarkan. Padahal ku juga tahu, begitu banyak dan berat masalahmu, namun kau tegar menghadapinya. Kau sahabat yang kuat alfa. Tak terlalu pantas rasanya aku mengorek masalah keluargamu. Namun yang kutahu pasti, dengan keluarnya kau dari rumah keluargamu, tak lantas menghilangkan rasa sayangmu pada ayahmu. Aku tahu kamu terlalu mencintai ayahmu, tapi mungkin ego membuatmu bertindak begitu. Aku tahu pasti itu, kamu menyayangi ayahmu, sangat mencintainya. Bila tidak, mengapa setiap saat kamu selalu membicarakan ayahmu. Bahkan di penghujung usiamu, kamu masih sempat menyanyikan lagu untuk ayahmu, ya lagu itu, “Yang Terbaik Bagimu”.
Kamu terlalu cepat pergi Alfa, setidaknya untukku saat itu, terlalu cepat. Perjumpaan kita baru seumur jagung, hanya 1 tahun. Tapi hanya dalam waktu 1 tahun, kau begitu banyak meninggalkan kenangan indah sahabatku. Terima kasih untuk kebersamaan singkat namun berarti itu. Aku menyayangimu sahabat. Tulus menyayangimu sebagai seorang sahabat J
Kuingat lagi tubuhmu yang kaku, berselimut kain putih, terbaring tenang di rumah duka itu. Banyak yang menangisimu, bahkan ada yang histeris jatuh di pangkuanku karena menangisimu. Kuingat dengan jelas, aku sama sekali tak meneteskan air mata saat itu, aku diam, duduk terpaku di salah satu sudut dalam ruang di rumah duka itu. Menatap tubuhmu, mengingat kembali seluruh kenangan kita. Aku tak mampu meneteskan air mata itu, wajahmu begitu tenang, mungkin kau lebih bahagia begitu, lalu mengapa aku harus menangisinya?
Sudah 7 tahun itu berlalu Alfa, aku tak pernah melupakanmu, aku mengasihimu sahabat. Terima kasih untuk perjumpaan yang indah di lorong putih itu, aku tahu kamu bahagia di sana. Bahagia bersama Bapa di Surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar