“Kehilangan
itu sudah pasti tapi harapan jangan sampai mati”
Subuh ini aku
terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh, punggung yang nyeri, dan perut
yang tidak keruan rasanya. Kutatap tembok putih tinggi yang mengkungkungku,
mereka membisu dan menatapku dalam keheningan. Kuambil remote televisi dan
kuhidupkan tv itu, ternyata ulasan tentang lagu-lagu Ada Band, waktu itu yang
dibahas adalah lagu “Yang Terbaik Bagimu”. Hmmm... lagu ini begitu penuh
kenangan. Bagiku tak hanya makna seorang ayah di balik lagu ini, namun ada
pengalaman lain di baliknya.
Kupejamkan mata,
kuresapi lagu ini, tak terasa ada butiran hangat mengalir di pipi. Ya, aku
mengingatmu sahabat, aku merindukanmu “Yohannes Alfa”. Beberapa waktu lalu,
siapa sangka aku berjumpa denganmu di lorong itu. Kau berdiri di ujung lorong
itu, tersenyum manis, mengenakan serba putih, namun mengapa aku tak bisa
menujumu? Langkahku terasa berat dan tak sampai-sampai, kau begitu jauh di
ujung lorong itu. Akhirnya aku menyerah alfa, aku hanya melambaikan tanganku
tanda membalas sapaan dan senyumanmu. Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun, kau membalikkan tubuhmu dan pergi menghilang ditelan cahaya putih
terang di ujung lorong itu, namun hatiku terasa lega, kau bahagia di “sana” J
Hai Alfa, aku
teringat 7 tahun lalu, saat kau masih bisa main ke rumah, bercerita banyak,
mendengarkan curhatku. Kau pendiam, banyak mendengarkan. Padahal ku juga tahu,
begitu banyak dan berat masalahmu, namun kau tegar menghadapinya. Kau sahabat
yang kuat alfa. Tak terlalu pantas rasanya aku mengorek masalah keluargamu.
Namun yang kutahu pasti, dengan keluarnya kau dari rumah keluargamu, tak lantas
menghilangkan rasa sayangmu pada ayahmu. Aku tahu kamu terlalu mencintai
ayahmu, tapi mungkin ego membuatmu bertindak begitu. Aku tahu pasti itu, kamu
menyayangi ayahmu, sangat mencintainya. Bila tidak, mengapa setiap saat kamu
selalu membicarakan ayahmu. Bahkan di penghujung usiamu, kamu masih sempat
menyanyikan lagu untuk ayahmu, ya lagu itu, “Yang Terbaik Bagimu”.
Kamu terlalu cepat
pergi Alfa, setidaknya untukku saat itu, terlalu cepat. Perjumpaan kita baru
seumur jagung, hanya 1 tahun. Tapi hanya dalam waktu 1 tahun, kau begitu banyak
meninggalkan kenangan indah sahabatku. Terima kasih untuk kebersamaan singkat
namun berarti itu. Aku menyayangimu sahabat. Tulus menyayangimu sebagai seorang
sahabat J
Kuingat lagi tubuhmu
yang kaku, berselimut kain putih, terbaring tenang di rumah duka itu. Banyak
yang menangisimu, bahkan ada yang histeris jatuh di pangkuanku karena menangisimu.
Kuingat dengan jelas, aku sama sekali tak meneteskan air mata saat itu, aku
diam, duduk terpaku di salah satu sudut dalam ruang di rumah duka itu. Menatap
tubuhmu, mengingat kembali seluruh kenangan kita. Aku tak mampu meneteskan air
mata itu, wajahmu begitu tenang, mungkin kau lebih bahagia begitu, lalu mengapa
aku harus menangisinya?
Sudah
7 tahun itu berlalu Alfa, aku tak pernah melupakanmu, aku mengasihimu sahabat.
Terima kasih untuk perjumpaan yang indah di lorong putih itu, aku tahu kamu bahagia
di sana. Bahagia bersama Bapa di Surga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar