Hari ini diawali
dengan kurang baik... yahhh.... memakan duren secara berlebihan itu memang gak
baik. Berawal dari ajakan babe untuk menghabiskan seluruh duren yang beliau
beli (walau akhirnya kami tak sanggup menghabiskannya). Esok paginya harus
berkutat dengan obat sakit perut. Malam sebelumnya tak dapat tidur karena panas
perut yang mendera. Pokoknya rasanya sungguh cetar membahana, melilit-lilit gak
jelas.
Janji pagi ini
terpaksa saya batalkan karena kondisi tubuh yang dinilai sudah tidak
memungkinkan untuk aktifitas fisik di pagi hari. Akhirnya terpaksa berkutat
dengan ramuan-ramuan penetralisir perut. Kemudian datang sms dari pembimbing
yang mempertanyakan mengenai tugas review, segera setelah perut agak membaik,
meluncur untuk bertapa di perpustakaan untuk memperoleh wangsit.
Hari semakin siang,
laparrrrr..... menghubungi kakak cantik untuk menemani makan siang ini.
Berakhir di kafe kampus untuk mengganjal perut. Sambil makan siang membicarakan
agenda selanjutnya, akhirnya diputuskan untuk ke rumah eyang narto dalam rangka
sungkeman. Ketiban berkat yang cetar membahana karena hujan deras mulai turun,
akhirnya berteduh di Ramayana.
Sambil menunggu hujan
agak reda, mulai berjalan melihat-lihat sambil ngobrol dengan kakak saya. Hmmm...
tiba pada satu titik, yaaa aku ingat kamu lagi.... tiba-tiba bayanganmu muncul
lagi, siluet wajahmu yang saat itu sedang menangis, menangisi kita. Aku bilang
bahwa ku sudah tak punya apa-apa lagi, kau bilang juga kan tak punya apapun. Pelukan
hangat sesudahnya yang tak pernah kulupa. Kenapa bayangan ini datang lagi? Aku lelah....
tapi seluruh organ dan perasaanku tak ingin diajak kompromi. Mereka semua
berkoalisi untuk memusuhiku. Aku susah payah mengendalikannya, namun sulit
sekali. Semua serempak dan bersepakat untuk selalu membawa bayangmu dalam
pikiranku.
Aku lelah sayang, aku
lelah.... Adakah yang dapat menarik semua memoriku tentangmu? Namun ada satu
bagian kecil di diri ini yang sangat kuat mempertahankannya. Aku tak berdaya
melawannya. Hujan reda dan mulai berjalan ke rumah eyang dengan kepala yang
dipenuhi bayangmu. Hingga tiba pada suatu pernyataan eyang narto, “kapan
menikah?” Pertanyaan yang membuatku terdiam sesaat, aku melirik ke kakak di
sebelah yang nampaknya juga sempat terdiam mendengar pertanyaan itu. Aku teringat
lagi semua ucapan-ucapanmu waktu dulu. Ah kenapa hari ini alam semesta
mempermainkanku. Alam seakan mengejekku dan membawaku dalam suatu dimensi yang
semuanya berisi tentang kamu. Ya, hanya kamu.
Aku
sungguh tak tahu bagaimana mengendalikan ini semua, kakak berkata, waktu yang
akan menyembuhkan dan mengajari caranya untuk merelakan. Tapi kapan? Aku lelah
berkutat dengan diriku sendiri. Aku selalu kehabisan energi, energi untuk
mengendalikan diriku sendiri. Biarlah malam ini aku sendiri lagi, aku tak ingin
mengeluarkan energiku untuk mengendalikan diri. Aku biarkan tubuh, emosi dan
perasaaanku malam ini untuk dikuasai oleh bayangan-bayanganmu. Biar kamu
puas!!! Kamu menang malam ini, kamu menang!! Dan aku yang tak terkendali malam ini
ingin berkata, aku itu mencintaimu, kamu tahu gak sih?! Aku tuh mencintaimu tanpa
batas saat ini., bahkan aku mencintai kejelekanmu. Aku mencintaimu dengan amat
sangat. Aku ingin bilang bahwa kamu itu buta huruf! Biar kamu puas bahwa malam
ini aku tak ingin mengendalikan diri. Biar lepas semua begitu saja, apa adanya.
"It matters
not who you love, where you love, why you love, when you love or how you love,
it matters only that you love” (John Lennon)
#Hujan
mengalirkan rinduku padamu, semoga kau mampu membaca perasaanku

wah yang ingat mantan nieehh... heheheh
BalasHapusyang jelas saran dari ku sih, km memang harus merelakan dan membuat hatimu utuh kembali untuk siap menerima cinta yang baru dan yang akan datang menghampirimu,,,
karena hati yang tdk utuh ketika cinta baru itu datang tetap saja hanya masa lalu yang terus km akan lihat,,, hoho
tap prosesnya lama sih bener2 kudu bisa melepas dan merelakan.. wkwkwk (dulu aku 1th lhooo) hahahahahah...
proses laaaaaaaahhh.. hahha
God bless
kapan nikah? sumpeh pengen nyemplung ke akuariumnya eyang,,
BalasHapusTairis kita pe hatiii