Rabu, 27 Februari 2013

Selamat Senja Teluk Awur


Kujejakkan kaki di tepi pantaimu
Angin bertiup terlalu kencang menurutku
Tubuhku terasa didorong kuat oleh angin
Kuistirahatkan tubuhku dengan duduk di dermaga itu
Kulihat di sekitar dermaga banyak nelayan melemparkan jalanya
Namun tak satupun ikan yang terjerat
Nelayan itu tidak putus asa, dia terus menerus melemparkan jalanya
Berharap akan ada ikan yang terperangkap
Aku mengubah posisi dudukku agar leluasa untuk menunggu terbenamnya matahari
Namun sial bagiku
Awan hitam tiba-tiba melingkupi langit
Tak lama hujan turun perlahan, lalu kemudian menjadi deras diiringi badai
Aku berlari menjauhi pantai, menuju asrama spooky itu
Aku berhenti sejenak di beranda asrama
Kubalikkan badan dan kulihat matahari yang hampir terbenam itu sudah tak terlihat lagi
Dia disembunyikan oleh awan hitam itu
Aku putuskan untuk masuk ke kamar
Aku buka jendela kamar dan kembali merenung sambil bertopang dagu di pinggir jendela
Senja yang diiringi hujan badai
Aku merasa  inilah tempat yang cocok untukku saat ini
Tempat yang cocok untukku yang sedang jenuh dengan segala aktivitas kampus
Tempat yang cocok untuk melupakanmu dan mereka sementara ini
Tempat yang cocok untukku merenung panjang
Tempat yang cocok untukku menarik diri sementara dari kemelut dan kenyataan hidupku
Tak lama eyang yang selama ini mendampingiku memanggil
Aku bangkit dari pinggir jendela itu dan berjalan ke arahnya
Eyang menyambutku dengan senyum hangatnya
Seakan memaklumi keresahan hatiku
Senyuman hangat eyang seketika menentramkan hatiku
Membuatku merasa aman
Membuatku merasa tidak sendiri di sini, di dunia ini
Hai Teluk Awur.. Terima kasih untuk senja yang kau sajikan
Walau diselingi hujan badai, seakan kau tahu rasa di hatiku
Kau mengerti aku Teluk Awur
Terima kasih kau dan eyang juga menyadarkanku bahwa aku tak sendiri
Kalian selalu bersamaku disaat tersulit sekalipun


1 komentar:

  1. Hehehe ceritanya jadi menarik. Sangat imajinatif. Tapi kayaknya masih ada kisah yang belum terungkap kan?

    BalasHapus