Sabtu, 02 Februari 2013

Warna-warni Kehidupanku Bermahasiswa


Kehidupan bermahasiswa saya benar-benar penuh warna. 3 tahun 9 bulan menyelesaikan strata 1 di Fakultas Biologi UKSW dengan susah payah dan berkesempatan berkecimpung dalam Lembaga Kemahasiswaan aras Fakultas dan Universitas. Saya bukan mahasiswa yang berprestasi “wow” dalam kegiatan akademik, lulus dengan IPK hanya 3,20 dan 4 mata kuliah yang mengulang dari total 40 mata kuliah yang diambil, terlibat dua kali dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian yang didanai oleh DIKTI dan dua kali diutus untuk ikut penelitian multidisiplin ke Universitas serta beruntung diberi kepercayaan jadi asisten dosen di Fakultas saya dan Fakultas tetangga (Fakultas Ilmu Kesehatan).
Setelah merenung dan refleksi, ya wajar kalau saya jadi mahasiswa yang biasa-biasa aja dalam akademik, lha wong kalo kuliah pagi aja, saya datang dalam keadaan ngantuk dan lupa nyisir rambut karena buru-buru pergi ke kampus (maklum bangun kesiangan). Saya masih ingat dalam suatu kuliah pagi jam 7 dengan dosen Prof. Haryono Semangun, ketika saya tiba dalam ruang kuliah, beliau pasti berkata “Mbak Fitri setiap masuk kuliah saya pasti sambil terengah-engah haha....”. ya iyalah, secara saya pergi ke ruang kuliah dalam keadaan setengah berlari karena hampir terlambat, dan beruntung beliau selalu menunggu saya tiba (saya termasuk mahasiswa rajin kuliah (ngisi absen doank) lho) baru kuliah dimulai. Mengerjakan tugas kuliah pun cenderung apa adanya karena baru dikerjakan tengah malamnya sebelum besok paginya dikumpulkan. Dalam kuliah pun, saya juga termasuk mahasiswa yang kalem alias diem aja lantaran di kepala saya terlalu banyak hal di luar kuliah yang dipikirkan. Apalagi kalau mata kuliah yang tidak disenangi seperti Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, Taksonomi Tumbuhan, Fisiologi Tumbuhan, dijamin saya cuma jadi pendengar setia (masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa satu pun yang nyangkut di otak). Kalau mata kuliah yang berkaitan dengan mikrobiologi dan Lingkungan pasti saya jabanin walaupun harus rela di laboratorium berjam-jam.
Ah Mikrobiologi, saya mencintainya, apalagi bakteri, terkhusus bakteri fermentatif. Pendamping hidup saya yang tak tergantikan itu, bakteri. Saya jatuh cinta tanpa batas dengan Lactobacillus dan Streptococcus. Saya rela mencari tahu apa yang disukainya, habitatnya, “gaya hidup”nya, semuanya saya cari tahu supaya saya dapat memeliharanya. Saya bisa bermain dengan mereka, kadang saya juga stress dan kecewa karena kelakuan mereka, namun saya juga sering dibahagiakan oleh mereka (saya bisa makan yoghurt dan tape kan karena mereka).
Lingkungan, mata kuliah yang berkaitan dengan topik ini sebisa mungkin saya ambil. Why? Karena saya suka jalan-jalan ke alam, simpel, itu aja alasannya. Jadi saya ingin menikmati alam saya dengan knowledge makanya rela mempelajarinya. Saya menikmati setiap keringat yang menetes, helaan nafas yang terengah-engah, lutut yang gemetar karena jauhnya berjalan, dan kulit yang semakin coklat karena dipanggang teriknya matahari.
Selain berkuliah, saya berkesempatan belajar mengenai kepemimpinan di kampus saya. Berawal dari sistem kredit point yang mengharuskan mahasiswa di kampus ini mengasah soft skill nya, maka saya terlibat dalam beberapa kepanitiaan dan organisasi di bawah senat mahasiswa pada tahun pertama saya berkuliah. Pada tahun kedua, saya ketiban berkat yang luar biasa, diberi kesempatan menjadi seorang ketua senat mahasiswa di Fakultas saya. Tak pernah terpikirkan dalam kepala saya untuk menjadi seorang ketua senat, dalam tahun kedua berkuliah pula, memimpin kakak-kakak angkatan, dan duduk setara dengan para pimpinan fakultas dalam rapat dinas fakultas. Awal mula pencalonan diri saja, saya dicalonkan oleh teman-teman dan parahnya lagi sebenarnya itu hanya untuk “meramaikan” suasana pemilihan supaya calonnya kelihatan banyak. Nah, teori “tidak ada makhluk hidup/ organisme yang mau mati konyol” itu benar adanya. Dalam sidang pemilihan ketua senat itu, para calon di”bantai” dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para senior (angkatan fosil juga ada dalam sidang kami saat itu), lha saya yang paling junior, mahasiswa “bau kencur” yang dianggap berani banget nyalon jadi ketua senat padahal baru memasuki tahun kedua berkuliah tentu di”hajar” habis-habisan dalam sidang. Saat itu ada 3 calon, saya dan 2 kakak angkatan saya, satunya satu tahun di atas saya pernah terlibat dalam kepengurusan badan perwakilan mahasiswa fakultas periode sebelumnya dan satunya lagi dua tahun di atas saya pernah terlibat dalam badan perwakilan mahasiswa aras universitas pada periode sebelumnya, jadi jelas banget saya gak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka (jomplang banget -.-“). Saat di”bantai” itulah, esensi saya sebagai salah satu makhluk hidup dipertaruhkan, yaitu mempertahankan diri hahahaha.... setiap pertanyaan saya jawab sebisanya plus ngotot-ngototan dan gak tau juga kerasukan setan apa, saya bisa jawab semua pertanyaan dengan memuaskan (menurut saya lho). Nah mungkin karena kerasukan itu juga, sekarang kalau ditanya hal yang sama mungkin saya sudah lupa dulu itu jawabnya apa hahahaha....
Selama satu periode berjalan dipenuhi dinamika, benturan/ konflik kerapkali mewarnai kepemimpinan saya namun bersyukur semua dapat terlewati. Satu hal yang tak pernah terlupa adalah konflik dengan fakultas, saya betul-betul tidak habis pikir dengan dekan saya saat itu. Pergi dari fakultas selama setengah tahun pada awal periode kepemimpinannya, meninggalkan amat banyak pekerjaan, kurikulum yang diganti (trimester menjadi dwimester), tidak ada rapat kerja fakultas, jadi saat itu benar-benar tidak jelas ini fakultas mau dibawa kemana dan programnya diarahkan kemana. Protes dari mahasiswa banyak sekali namun sayangnya para mahasiswa ini tak berani menyuarakan kegelisahan mereka, badan perwakilan mahasiswa fakultas juga tak mampu berbuat banyak. Beberapa dosen mulai ada yang mengundurkan diri, saya sudah mulai grasak grusuk di rapat dinas fakultas akhirnya hanya menjadi kesan dan saran yang ditampung (lha wong dekannya kagak ada). Prinsip saya saat itu “Kalau ada kesalahan maka suarakanlah. Bila anda tahu ada kesalahan dan tidak menyuarakannya maka anda ikut berdosa di dalamnya. Namun bila anda menyuarakannya dan tidak mendapat respon, setidaknya anda sudah lepas dari tanggung jawab itu”. Waktulah yang akhirnya menjawab, beliau akhirnya memiliki catatan yang tidak terlalu baik di mata orang banyak dan beruntung sebentar lagi masa kepemimpinannya akan berakhir. Dan saya sepertinya tetap akan tercatat sebagai mahasiswa bandel dan kurang ajar di kepala beliau hahahaha.... (#karepmu pak)
Tahun ketiga berkuliah, saya ketiban berkat lagi, karena konflik yang pernah saya alami, saya jadi dikenal dan akhirnya dapat tawaran untuk bergabung di Senat Mahasiswa Universitas. Tawaran bergabung dalam tubuh BPM fakultas saya juga ada namun saya tolak mentah-mentah, alasannya jelas, saya tidak mau bekerja dengan orang-orang yang menurut saya pecundang karena cuma berani ngomong di belakang padahal mereka punya peluang untuk bersuara. Akhirnya saya memilih belajar di SMU dengan segala resikonya. Perkembangan pesat terasa sekali saya alami, diberi tanggung jawab sebagai ketua bidang humanistik skill yang memiliki beban 65% dalam program tentu memiliki keasyikan tersendiri. Dua bulan terakhir di SMU dapet kesempatan jadi sekretaris umum, sendirian tanpa staff, tentu membuat saya kerja romusha hahahaa... Tau sendiri lah, menjelang akhir periode, segala macam laporan pertanggungjawaban dari seluruh fakultas ngantri minta dikoreksi, belum lagi dari SMU sendiri, mempersiapkan laporan pertanggungjawaban akhir periode juga, akhirnya suntuk di kantor sampai malam karena sibuk koreksi hahahaha....
Tahun keempat berkuliah diminta mencalonkan diri jadi ketua umum SMU, waduh.. setelah dipikir-pikir, saya lebih memilih studi saya karena saat itu sedang memasuki tahap tugas akhir alias skripsi. Alasan saya cukup logis, papi saya baru dioperasi jantungnya sehingga pembiayaan studi saya jelas jadi terbatas dan saya harus berhati-hati memperhitungkan biaya skripsi dan lain-lainnya, jadi intinya saya harus segera menyelesaikan studi saya, beruntung Tuhan menolong saya, Universitas melalui pembantu rektor 3 membantu menopang biaya studi saya. Kemudian saya memilih meneruskan pembelajaran soft skill saya di Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas, ketiban berkat lagi terpilih menjadi sekretaris umum melalui sidang yang panjang, masyaowoh.... (waktu itu calon sekum ada 7 orang!!).
Mungkin inilah dilema terbesar saya saat berada di BPMU, kehidupan personal saya dan profesionalitas saya teruji dan jujur saya merasa kalah di sini. Posisi sekum cukup sentral dalam roda organisasi ini, namun di sisi lain, papi saya kembali kolaps karena permasalahan di jantungnya terjadi lagi. Kejadian kolapsnya papi membuat saya harus mengambil keputusan untuk segera menyelesaikan skripsi, saya benar-benar fokus dan menuangkan seluruh waktu saya untuk skripsi, dari pagi hingga pagi lagi saya berada di laboratorium untuk riset bahkan bolak balik Yogya-Salatiga karena saya juga menggunakan Laboratorium di UGM agar riset saya segera selesai. Banyak yang bertanya-tanya bahkan memaki-maki saya karena ketidakaktifan saya di BPMU. Saya memilih mengundurkan diri namun keadaan menyulitkan sekali saat itu, saya harus diturunkan melalui sidang, sedangkan BPMU sedang sibuk-sibuknya, akhirnya dengan segala negosiasi, saya tetap bertahan dengan berbagai syarat. Pengalihan fokus yang ekstrim itu saya lakukan bukan semata karena biaya studi lagi, papi pernah janji akan menghadiri wisuda saya dan saya benar-benar ingin papi melihat saya menggunakan toga tanda saya sudah menyelesaikan studi S1. Saya takut sekali saat itu, takut kalau papi tak sempat lagi melihat saya wisuda, makanya saya ngebut gila-gilaan mengerjakan skripsi saya supaya segera wisuda. Tuhan memang memberikan yang terbaik bagi saya, skripsi saya dapat selesai dan tinggal tunggu wisuda, keadaan papi membaik dan bersiap meluncur ke Salatiga untuk menghadiri wisuda saya, dan saya tetap dapat berada di BPMU, mengerjakan Memorandum dan rangkaian evaluasi. Thanks God, You give me the best. Very beautiful moment in my life.
Akhirnya saya dapat menyelesaikan studi saya dengan baik, juga menamatkan studi soft skill. Kebahagiaan tersendiri ketika melihat transkrip keaktifan mahasiswa saya yang mencapai angka 6550 dari standarnya 1000 hohoho.... proses menyakitkan yang saya lalui membuahkan hal yang baik dan berguna dalam kehidupan saya. Dan semua proses itu menempa saya menjadi lebih baik lagi dan mengantar saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Begitu baik Tuhan bagi saya, begitu banyak yang Dia beri untuk saya, once again, Thanks God.
                                                                                                   
#ayo melawan dunia dan meraih mimpi bersama-sama sayang, aku menunggumu untuk sampai ke jenjang ini juga, trust me, aku menunggumu.

4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kalau ini sih salah kalau disebut mahasiswa biasa. Bagi saya, ini termasuk mahasiswa di atas rata-rata. Buktinya hanya sedikit yang bisa melakukan hal seperti ini selama kuliah. Tekad yang ditampilkan dalam tindakan saya kira merupakan faktor kunci. Selamat. Teruskan perjuanganmu. Saya yakin apa yang sudah dicapai merupakan bukti bahwa dream will be come true if you do what you want to do!

    BalasHapus
  3. saya cuma mahasiswa biasa kok om, biasa bikin kacau huahahahhaha...

    BalasHapus